Konsep Bangunan Rumah Islami

Rumah islami adalah rumah yang mengandung nilai-nilai Islam, ia dimulai dari niat yang tulus, dibangun dengan konsep sesuai ajaran Islam dengan menggunakan dana dan material yang halal.

Rumah islami seyogyanya tidak hanya mampu menjaga penghuninya dari dampak iklim dan bahaya lainnya, tapi juga mampu menjawab kebutuhan fungsional bagi penghuninya serta sesuai dengan gaya hidup dan budaya penghuninya. Adapun dari sisi desain, Islam tidak membatasi jenis desain rumah sepanjang  tidak bertentangan dengan ajaran Islam.

Ada beberapa prinsip dasar terkait rumah islami mengacu kepada Al Quran dan sunah, diantaranya privasi, kenyamanan, kedamaian, keamanan, kebersihan, kesederhanaan dan lainnya. Namun secara garis besar karakteristik arsitektur islami  dapat dikelompokan ke dalam tiga indikator, yakni fungsional (hasan), baik (thayib) dan indah (jamil). (Hasan dkk, 2016).

Fungsional (Hasan)

Makna fungsional rumah bersumber dari tujuan penciptaan manusia, yakni untuk beribadah dan menjadi khalifah di bumi. Oleh karena itu bangunan rumah harus memungkinkan sebagai tempat berlindung, berhajat sesuai fitrah manusia (makan, tidur, membersihkan diri dan sebagainya), membina keluarga dan beribadah.

Terkait dengan makna fungsional tersebut di atas, bangunan rumah tidak hanya harus memenuhi kebutuhan dasar manusia, tapi juga harus memenuhi tuntunan syariat. Kita harus menghindari sirik dan perbuatan haram dalam proses perencanaan, pembangunan dan pengisian kelengkapan rumah.

Islam mengajarkan adanya pemisahan yang jelas antara kehidupan privat dan publik. Mungkin inilah karakteristik yang paling menonjol dalam membentuk rumah yang islami.  Terkait privasi, Islam juga mengajarkan agar orangtua memisahkan tempat tidur anak laki-laki dan perempuan saat mereka telah memasuki usia baligh. Ajaran lainnya, meminta anggota keluarga untuk mengetuk pintu kamar orangtua saat ingin masuk di tiga waktu, yakni setelah Isya, sebelum subuh dan siang hari (QS. An-Nur: 58). Artinya, hunian Islami minimal memiliki empat kamar, yakni untuk orangtua, anak laki-laki, anak perempuan, dan tamu.

Secara garis besar lay out rumah islami terbagi ke dalam tiga area, yakni area privat, area servis dan area publik. Area privat terdiri dari ruang tidur utama, ruang tidur anak, ruang makan, pantry, ruang keluarga, WC dalam, dan teras keluarga atau courtyard kecil. Area servis terdiri atas dapur, ruang pelayanan, WC cuci, ruang cuci-jemur, ruang setrika dan garasi. Adapun area publik terdiri atas ruang tamu, teras depan dan taman depan.

Fungsional juga bisa bermakna efisien, tidak berlebih-lebihan.  Sebagaimana dapat kita simpulkan dari hadits sahih Muslim yang diriwayatkan oleh Jabir Bin Abdullah, bahwa Rasullullah SAW pernah bersabda: “Kamar pertama untuk laki-laki, kamar kedua untuk istrinya, kamar ketiga untuk tamu, dan kamar keempat untuk setan.” Maksud dari hadits ini adalah, kamar berlebih yang tidak digunakan akan menjadi kamar setan, sebab setan adalah kawan bagi kemubadziran.

Baik (Thayib)                                                                                                 

Makna baik dari rumah bersumber dari konsep rahmatan lil ‘alamin. “Dan tidaklah kami mengutusmu (Muhammad), kecuali sebagai rahmat bagi alam semesta (QS. Al Anbiya: 107). Bahwa rumah harus dibangun dari bahan/material yang baik, dengan desain dan metode yang baik, sehingga membawa kebaikan serta keamanan bagi penghuni rumah dan lingkungannya.

Rasulullah SAW memberikan perhatian terhadap keamanan rumah umatnya. Suatu waktu beliau bersabda, “tutuplah tempat air kalian, pintu rumah kalian, dan matikanlah lampu-lampu kalian, karena bisa jadi tikus akan menarik sumbu lampu sehingga mengakibatkan kebakaran yang menimpa para penghuni rumah.” (HR. Bukhari). Di hadits lainnya diceritakan bahwa suatu malam terjadi kebakaran di salah satu rumah penduduk di Madinah (ketika penghuninya tertidur). Kejadian tersebut diceritakan kepada Rasulullah SAW. Beliau bersabda, “sesungguhnya api ini adalah musuh kalian, karena itu apabila kalian hendak tidur, maka padamkanlah ia lebih dahulu.” (HR. Bukhari). Selain terkait dengan kemananan, hadits di atas juga terkait dengan kesehatan. Berdasarkan riset terbaru, memadamkan lampu pada saat tidur, baik bagi kesehatan.

Dalam mendesain hunian, Islam juga mengatur tentang silaturrahim atau keharusan menjaga hubungan dengan lingkungan dan masyarakat sekitar. Oleh karena itu, idealnya, hunian keluarga Muslim memiliki ruangan khusus untuk menerima tamu dengan desain yang mampu menjaga area privat. Misal rumah memiliki dua pintu masuk, yaitu pintu masuk utama dan pintu kedua. Pintu utama untuk masuk ke ruang tamu dan digunakan sebagai area publik, pintu kedua yang biasanya di carport atau dapur digunakan sebagai pintu masuk area privat dan servis bagi anggota keluarga apabila sedang ada tamu.

Idealnya rumah islami memiliki courtyard atau ruang luas dan terbuka di dalam hunian. Selain berfungsi untuk pertukaran udara dan pencahayaan alami, juga menjadi arena rekreasi yang memungkinkan anak-anak dan remaja Muslimah bermain tanpa harus memakai hijab. Juga sebagai sarana berkontemplasi atau bercengkerama dengan alam.

Indah (Jamil)

Makna indah sebuah rumah bersumber dari konsep, “Allah itu Maha Indah dan menyukai keindahan” yang merupakan potongan hadits sebagai berikut.  Nabi SAW bersabda, “tidak masuk surga orang yang dalam hatinya ada kesombongan meski hanya sebesar atom.” Seorang sahabat berkata, “sesungguhnya ada seseorang yang menyukai baju yang bagus dan sandal yang bagus. Nabi SAW bersabda, “sesungguhnya Allah Maha Indah dan menyukai keindahan. Kesombongan itu menolak kebaikan dan merendahkan sesama manusia.” (HR. Muslim).

Seyogyanya arsitektur islami mampu mengeksplor elemen keindahan bagi sebuah bangunan dan kawasan. Elemen keindahan ini mesti memenuhi kaidah Islam, tidak mendukung perbuatan sirik, tidak membahayakan penghuninya dan lingkungan serta tidak menyeret penghuninya kepada kesombongan. Terkait hiasan rumah, memang terdapat beberapa hadits yang melarang keras penggunaan patung dan lukisan. Namun demikian, dalam memahami hadits tersebut, kita perlu  mempertimbangkan pendekatan bayani (tekstual), burhani (kontekstual) dan irfani (makna hakikat) secara integral (Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, 2018). Untuk lebih aman, hiasan dan ornamen interior dalam aristektur Islam bisa mengeksplorasi  motif tumbuhan (arabesques), geometri dan kaligrafi.

Perlu digarisbawahi bahwa indah itu tidak identik dengan mahal. Dengan kreativitas, kita tetap bisa membangun dan menata rumah dengan indah meski dengan anggaran yang terbatas.

Referensi:

Hasan, M., Murtini, T., Sari, S. (2016). Sustainable Architecture Responsed by Islamic Architecture for Better Environment. International Journal of Advances in Agriculture and Environtmental Engineering Vol 3, Issue 1

Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah (2018). Himpunan Putusan Tarjih Muhammadiyah 3. Yogyakarta: Suara Muhammadiyah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: