Ecodesign

Perhatian terhadap lingkungan dalam membangun sering disebut sebagai ecodesign atau green architecture. Brenda dan Robert Vale dalam bukunya Green Architecture: Design for a Sustainable Future (1991) merinci prinsip-prinsip green architecture sebagai berikut:

1. Konservasi energi (conserving energy)

Bangunan seyogyanya dibangun sedemikian hingga meminimalkan energi fosil. Makna konservasi energi sebenarnya adalah penggunaan energi secara efisien dan rasional. Pemanfaatan energi secara lebih efisien bisa dilakukan melalui (i) penggunaan teknologi yang hemat energi; (ii) penerapan budaya hemat energi dan (iii) penerapan konservasi energi yang meliputi perencanaan, pengoperasian dan pengawasan pemanfaatan energi secara terpadu.

2. Melibatkan iklim (working with climate)

Bangunan seyogyanya didesain untuk bekerja dengan iklim dan sumber daya energi alami. Matahari dapat dimanfaatkan sebagi sumber pencahayaan dan pemanasan alami sedangakan angin bisa digunakan untuk pendinginan pasif.  

3. Meminimalkan sumber daya baru (minimizing new resources)

Bangunan seyogyanya didesain sedemikian hingga meminimalkan penggunaan sumber daya baru dan pada akhir umur kegunaannya dapat digunakan sebagai sumber daya arsitektur selanjutnya. Contohnya pada saat melakukan renovasi rumah, kita memanfaatkan material lama yang masih bisa digunakan.

4. Menghormati pengguna (respect for users)

Memperhitungkan kepentingan setiap orang yang terlibat dengan bangunan tersebut. Konsep ini terkait dengan kriteria fungsional sebuah bangunan. Bangunan yang fungsional cenderung akan lebih efisien, terutama dari konsumsi energi.

5. Menghormati lingkungan (respect for site)

Bangunan yang “touch-this-earth-lightly”.  Melibatkan lingkungan sekitar sebagai bagian dari arsitektur. Salah satu contoh yang mudah adalah penyesuaian bangunan dengan kontur tanah.

6. Bersifat menyeluruh (holism)

Semua prinsip tersebut di atas perlu diterapkan secara holistik.

Alam sekitar adalah arsitektur alam yang merupakan modal dasar yang sangat berharga. Gunung, bukit, flora dan fauna bukanlah bangunan, tetapi turut memberi sifat dan suasana kepada tempat tinggal kita.

Terkait dengan hal ini, Y.B. Mangunwijaya dalam Pengantar Fisika Bangunan (1994), mengingatkan akan pentingnya pemahaman mengenai  re-architecturing. Maksudnya bukan mendirikan bangunan (saingan) disamping atau pengganti suatu pemberian alam tertentu. Juga bukan berarti menerima alam begitu saja. Melainkan dengan menganalisis terlebih dahulu hal-hal apa yang menjadi modal di alam, hal-hal apa saja yang kita tidak perlu membuatnya sendiri dengan biaya yang mahal dan belum tentu lebih efisien. Kemudian kita tinggal mengubah atau membentuk sedikit di sana sini. Sesuatu yang tadinya alami menjadi manusiawi.

Alam sering memberi kita inspirasi, termasuk bagaimana untuk hidup secara harmoni dengan lingkungan. Mick Pearce didampingi Ove Arup berhasil mewujudkan bangunan komersial berupa kompleks perdagangan besar bernama Eastage di Harare, Zimbabwe, tanpa menggunakan AC. Bangunan tersebut dapat mempertahankan suhu yang stabil antara 23 – 25 oC dan menggunakan kurang dari 10% energi yang dikonsumsi oleh bangunan lain dengan ukuran yang sama. Sepertinya memang tidak masuk akal, udara siang hari di Harare sangat panas. Namun Pearce berhasil melakukannya dengan mendasarkan rancangan arsitekturnya pada cara rayap-rayap mendinginkan sarang mereka yang berupa gundukan tanah dan lumpur seperti menara (Johansson, 2007).

Ke depan ecodesign tidak hanya menghemat energi tapi bisa menghasilkan energi. Bangunan dengan bahan-bahan listrik fotovoltaik pada atap dan jendela bisa memproduksi listrik lebih banyak daripada yang digunakan. Nantinya inovasi bangunan makin mendekati visi yang diajukan oleh William McDonough dan Michael Braungart dalam artikel The Next Industrial Revolution yang dikutip oleh Fritjof Capra dalam The Hidden Connection (2005), “bayangkan … bangunan sebagaimana pohon. Ia akan memurnikan air, menghasilkan pendapatan dari matahari, memproduksi energi lebih banyak dari pada yang ia konsumsi, menciptakan keteduhan dan habitat, memperkaya tanah dan berubah bersama pergantian musim.”

Referensi:

Capra, Fritjof (2005). The Hidden Connection: Strategi Sistemik Melawan Kapitalisme Baru. Yogyakarta: Jalasutra

Johansson, Frans (2007). The Medici Effect – Rahasia Sukses Beinovasi Secara Revolusioner. Jakarta: Serambi

Mangunwijaya, Y.B. (1994). Pengantar Fisika Bangunan. Jakarta: Djambatan

Vale, Brenda & Vale, Robert. (1991). Green Architecture: Design for a Sustainable Future. London: Thames and Hudson

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: